Kehebatan para agen Mossad sudah
tak bisa diragukan lagi. berbagai kesuksesan berhasil mereka raih dalam dinas
kerahasiaan mereka. Beberapa nama besar muncul dalam membicarakan tentang
Mossad. Nama yang pasti tidak asing lagi bagi kita adalah Eli Cohen. Ya....Eli
Cohen...salah satu agen Mossad terbaik yang pernah ada.
Eli Cohen bernama samaran Kamil
Amin Taabes. Kamil Amin Taabes nyaris jadi orang nomer dua di Suriah, sebelum
aksinya dibongkar Kolonel Ahmed Souwedani. Taabes adalah Eli Cohen, spion
legendaris sepanjang sejarah Mossad. Kisah ini terangkum dalam buku karya Denis
Eissenberg berjudul "Mossad; Dinas Rahasia Israel".
ELI COHEN – SPION LEGENDARIS MOSSAD
(Bagian III)
Pengalaman Pahit Eli Cohen
KISAH panjang ini dimulai di
kantong permukiman Yahudi di Alexandria, Mesir. Tanggal 16 Desember 1924, Eliya
Cohen dilahirkan di tengah keluarga Shaul dan Sofie Cohen. Keluarga itu
bermigrasi dari tempat tinggal mereka sebelumnya di Aleppo, Suriah.
Shaul dan Sofie punya delapan
anak, dan mereka menghidupi keluarga itu dari hasil berjualan kain sutera impor
dari Paris. Namun kehidupan mereka dijalani sederhana saja di tengah peperangan
dan ketidakpastian di Timur Tengah.
Eli Cohen tumbuh besar dan dididik
orangtuanya menjadi Yahudi yang ortodoks. Namun ia juga merasa menjadi penduduk
Mesir tulen, sama dengan teman-teman sebayanya yang nonYahudi. Eli Cohen
pintar, mudah bergaul, namun sejatinya seorang penyendiri.
Ia gemar memotret, menyukai
pesawat terbang, senang dengan matematika dan fisika. Ia sudah melupakan
pelajaran agama, yang digerojokkan ke kepalanya saat ia belajar di sebuah pusat
studi Talmud di Alexandria.
Ketika perang berkecamuk di Mesir
1942, Eli Cohen tampil berbeda dengan teman seusianya. Ia lebih menyukai
berdiri bebas di tempat terbuka, menyaksikan langsung pesawat Jerman melayang-
layang dan menjatuhkan bom-bom mereka ke basis tentara Inggris.
Sementara teman-temannya lebih
banyak meringkuk di bunker-bunker persembunyian. Musim panas 1942, pasukan tank
Rommel merangsek ke Kairo, perasaan kuat pro-Nazi merebak di Mesir. Pergolakan
dan aksi anti-Inggris meningkat.
Ekstremis Yahudi memanfaatkan
momen ini. Dua anggota Lechi, organisasi garis keras Yahudi yang dibentuk
Abraham Stern, pada 5 November 1944, menembak mati Menlu Inggris untuk Timteng,
Lord Moyne, di depan rumahnya di Kairo.
Pembunuhan ini membangkitkan
kemarahan Inggris dan sekutunya. Dua pelaku pembunuhan ini, Eliya Beit Zuri dan
Eliya Hakim, diciduk dan dihukum gantung.
Kelak terungkap, motif pembunuhan
Lord Moyne adalah ekspresi kemarahan ekstremis Yahudi terhadap sikap acuh
Inggris pada holocaust di Eropa. Hukuman mati atas dua Eliya itu menimbulkan
perasaan emosional mendalam bagi kaum Yahudi Mesir.
Eli Cohen salah seorang yang
melihat hukuman gantung itu dan merasakan emosi menjalari tubuh dan pikirannya.
Pemandangan itu yang akan membentuknya menjadi pribadi yang kuat dan patriotik
di kemudian hari.
Persentuhan Eli Cohen dengan
operasi mata-mata dimulai ketika ia dilibatkan dalam Operasi Goshen. Ini
operasi pemindahan secara diam-diam kaum Yahudi dari Mesir ke tanah Palestina,
dengan kedok perjalanan wisata.
Eli bekerja di Grunderg Travel
Agency, yang tugasnya jadi penghubung ke petugas lokal pengurusan dokumen
perjalanan. Tugas itu dijalankan dengan mulus sepanjang 1945 hingga 1949. Ada
ribuan Yahudi Mesir dipindahkan ke tempat barunya di tanah Palestina.
Eli Cohen sempat kuliah di Universitas
Farouk, namun sikap antiSemit warga Mesir membuatnya putus di tengah jalan. Ia
mencoba keras kepala, namun kalah. Sekali lagi Eli Cohen mencoba bersikap
patriotik dengan hadir di panggilan wajib militer Mesir.
Namun, ia tetap ditolak. David Ben
Gurion pada 14 Mei 1948 memproklamasikan berdirinya negara Israel. Perang
berkobar dengan hasil kekalahan di pihak Arab. Gencatan senjata diteken Januari
1949 dengan Mesir sebagai negara pertama yang meneken perjanjian.
Kekalahan itu menimbulkan
kesulitan baru bagi warga Yahudi di Mesir. Mereka dipersekusi, rumah dirampok,
kekerasan tak pernah berhenti. Tahun 1950, Eli Cohen memberangkatkan
keluarganya ke negeri baru Israel.
Ia bertahan di Mesir bersama
sekitar 45 ribu warga Yahudi yang tersisa. Musim dingin 1954, Letkol Gamal
Abdul Nasser menggulingkan Jenderal Naguib. Perubahan ini menimbulkan
pergeseran AS dan Inggris yang pro-Arab.
Orang-orang Israel tak tinggal
diam. Operasi sabotase dirancang dan dilancarkan di Mesir. Operasi dipimpin
Paul Frank, pria Yahudi kelahiran Cologne, Jerman. Tujuan sabotase adalah
fitnah supaya sikap anti-Mesir muncul di pihak Washington dan Inggris.
Fitnah nanti akan dialamatkan ke
kelompok komunis dan ekstremis Islam. Sebuah pusat informasi AS di Kairo
diledakkan, juga kantor pos pusat di Kairo dan Alexandria dihancurkan. Namun,
operasi rahasia itu berakhir tragis. Seorang pelaku, Philip Nathanson,
tertangkap polisi Mesir.
Gerombolan agen Mossad itu
diringkus dan diadili pada musim gugur 1954. Eli Cohen lolos dengan
kemampuannya meyakinkan intelijen Mesir, bahwa ia sama sekali tidak tahu dan
tidak terlibat sabotase.
Lima orang Yahudi dijatuhi hukuman
berat. Marcelle Ninio dan Robert Dassa dihukum 50 tahun penjara. Philip
Nathanson dan seorang pemuda Yahudi lain dipenjara seumur hidup. Samuel Azzar,
teman kuliah Eli Cohen dan Dr Moshe Marzouk, dihukum mati.
Sekali lagi, Eli Cohen menyaksikan
orang terdekatnya dihukum gantung di muka umum pada 1 Januari 1955. Tubuh
mereka terayun-ayun di depan penjara Bab al-Halek. Eli merapal doa, untuk
perjuangan kedua martir bagi negerinya itu. Ia akan menyusulnya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar