Kehebatan para agen Mossad sudah tak bisa diragukan lagi. berbagai kesuksesan berhasil mereka raih dalam dinas kerahasiaan mereka. Beberapa nama besar muncul dalam membicarakan tentang Mossad. Nama yang pasti tidak asing lagi bagi kita adalah Eli Cohen. Ya....Eli Cohen...salah satu agen Mossad terbaik yang pernah ada.
Eli Cohen bernama samaran Kamil Amin Taabes. Kamil Amin Taabes nyaris jadi orang nomer dua di Suriah, sebelum aksinya dibongkar Kolonel Ahmed Souwedani. Taabes adalah Eli Cohen, spion legendaris sepanjang sejarah Mossad. Kisah ini terangkum dalam buku karya Denis Eissenberg berjudul "Mossad; Dinas Rahasia Israel".
ELI COHEN – SPION LEGENDARIS MOSSAD (BAGIAN II)
Nyaris Berkuasa di Suriah
TIGA bulan di Buenos Aires, Amin
Taabes sudah mendapatkan segala-galanya. terutama kepercayaan elite komunitas
Suriah di kota itu, bahwa ia benar-benar seorang pengusaha berdarah Suriah dan
ingin kembali ke Damaskus, berbakti pada tanah airnya.
Biro Deuxime, badan intelijen
Suriah sudah memeriksa jati diri Amin Taabes, dan tidak menemukan keganjilan.
Penyamaran Amin Taabes benar-benar sempurna sampai sedetail- detailnya.
Di akhir bulan ketiga, Amin Taabes
menggelar pamitan ke teman-temannya. Menjamu mereka di apartemen karena ia akan
segera pergi ke Damaskus. Tidak ada yang curiga sama sekali. Semua larut dalam
pesta perpisahan.
Pada hari yang ditentukan, Amin
Taabes naik pesawat menuju Munchen dalam perjalanan menuju Beirut. Namun ia
meneruskan penerbangan ke Zurich.
Ia berganti identitas, dan segera
terbang ke Tel Aviv, menemui keluarganya. Semua sudah diatur rapi oleh Mossad.
Kamil Amin Taabes bersalin rupa, kembali jadi Eli Cohen.
Pada 28 September 1961, terjadi
kudeta di Damaskus. Kup itu berakibat pengusiran para perwira Mesir yang selama
ini bercokol di Suriah. Perginya militer Mesir ini membuka jalan masuknya Eli
Cohen ke Damaskus.
Akhir Desember 1961, Eli Cohen
meninggalkan Tel Avaiv menuju Munchen. Ia kembali bersalin rupa jadi Kamil Amin
Taabes. Dari Munchen ia terbang ke Genoa, dan berlayar naik kapal menuju Beirut,
Lebanon. Amin Taabes berada di kabin kelas satu.
Sepanjang pelayaran, ia membangun
relasi dan kebetulan bertemu Sheikh Magd Al-Ard, orang kaya Suriah dan
berpengaruh. Amin Taabes menjalani perannya sebagai pengusaha ekpor impor, dan
ingin pulang berbakti ke negaranya.
Seturun di pelabuhan Beirut,
Sheikh Magd Al-Ard membawa Amin Taabes ke Damaskus. Ia mencari apartemen dan
mendapatkannya di Abu Rummanah, berseberangan dengan markas besar Angkatan
Bersenjata Suriah.
Usaha ekpor impornya segera
bergerak, dan langsung gilang gemilang. Bisnis itu benar-benar riil, dan
memberikan banyak manfaat ekonomi bagi Mossad. Teman-teman bisnis Taabes
bertambah banyak, dan ia gemar bertemu ngopi di Pasar Hammidiyah, Old Damaskus.
Relasi elite Taabes kian banyak.
Ia berteman dengan Letnan Maazi Zaher El-Din, kemenakan Kepala Staf Militer
Suriah, Jenderal Abdul Karem Zaher El-Din. Ada juga George Seif, pemimpin
siaran radio propaganda Suriah.
Lalu Kolonel Salim Hatoum, kepala
pasukan payung di Suriah. Hatoum ini orang yang sangat anti-Zionis, yang kerap
berjam-jam menceramahi teman-teman betapa banyak tokoh politik Suriah yang
takut berperang melawan Israel.
Ironisnya, saudara Hatoum bernama
Garis, tingal di Tel Aviv, menjadi Yahudi yang sangat ortodoks. Keluarga Hatoum
ini termasuk suku Druze yang tinggal di perbatasan Israel-Suriah. Dinamika
Damaskus diikuti penuh antusias oleh Amin Taabes.
Tiap malam ia menggunakan radio
pemancar, mengirimkan pesan bersandi ke markas Mossad. Mikrofilm ia kirimken ke
Zurich, sebelum sampai ke meja di Tel Aviv. Laporan Amin Taabes mencakup
petunjuk gerakan militer di markas besar.
Suatu ketika, Taabes mendapati
markas besar mliter Suriah terang benderang selama tiga hari berturut-turut.
Kendaraan militer hilir mudik keluiar masuk markas, tak lazim. Taabes menepis
kemungkinan kup.
Ia menduga ada persiapan perang
melawan Israel. Laporan itu ia kirim ke Tel Aviv, dan ternyata benar. Kendaraan
lapis baja Suriah berarak menuju Golan. Israel mendahului serangan, mencegat
gerakan pasukan Suriah di perjalanan.
Enam bulan sesudah kedatangannya
di Damaskus, Amin Taabes dipanggil pulang. Ia kembali jadi Eli Cohen dan
menghabiskan liburan singkat bersama keluarganya. Sesudah itu ia kembali ke
Damaskus, dan oleh Sheikh Magd Al-Ard, Taabes dipertemukan dengan Frans
Radmacher.
Taabes terkejut, dan nyaris tak
bisa menguasai diri. Taabes tahu sosok di depan mata adalah tangan kanan Adolf
Eichman, jagal Nazi di Belgia dan Yugoslavia. Tokoh itu jadi target penting
Mossad untuk diadili atau dilenyapkan.
Di Damaskus, Frans Radmacher jadi
penasehat Biro Deuxieme, dinas rahasia Suriah. Taabes melapor ke Mossad, ia
bertemu Radmacher, dan siap membunuhnya. Mossad panik, dan meminta Taabes tak
bertindak sembrono. Rencana itu ditolak mentah-mentah.
Taabes dengan penuh penyesalan
menurut perintah itu. Ia terus melanjutkan servis memabukkan ke para relasinya,
termasuk Kolonel Sallah Dalli, perwira yang dianggap paling moncer di Suriah
saat itu.
Ia membiarkan kolega-koleganya itu
berpuas-puas di apartemennya, termasuk dengan gundik- gundik mereka. Kepada
temannya yang lain, Letnan Maazi,kemenakan jenderal top Suriah, Taabes
mengutarakan minatnya pada soal-soal militer.
Terbuai omongan Taabes, Maazi
mengajaknya pergi ke Dataran Tinggi Golan. Ingin menyenang- nyenangkan temannya,
Maazi mengizinkan Taabes mendatangi pos-pos dan parit-parit pertahanan militer
Suriah di pegunungan itu.
Taabes leluasa masuk kawasan
terlarang karena ia juga dikenal berkawan dengan Jenderal Al- Hafez, atasan
militer yang dikenalnya di Buenos Aires. Taabes melihat secara cermat ada 80
howitzer kaliber 122 mm, dan ke arah mana moncongnya ditempatkan.
Tak hanya sekali, berkali-kali
Taabes diizinkan masuk Golan, dan bahkan leluasa momotret persenjataan Suriah.
Ia juga memotret menggunakan tele, aktivitas penduduk Israel yang ada di bawah
pegunungan dan jadi sasaran tembak Suriah.
Tak hanya itu, Taabes mendapatkan
penjelasan panjang lebar dari para perwira lapangan, tentang gambar-gambar dan
sistem pertahanan Suriah. Taabes segera mendapatkan gambaran betapa rumitnya
sistem pertahanan di Golan.
Artileri ditempatkan di bawah
tanah, paritnya terlindung, pos-pos observasi dilindungi beton, begitu juga
tank-tanknya, serta meriam-meriam dimasukkan ke tanah hitam. Gudang amunisi ada
di bawah tanah. Seluruh area dikelingi ranjau dan kawat berduri.
Ia juga mendengar penjelasan para
penasehat dari Rusia, mendapati map-map dan model wilayah Golan, dan ia diajak
ke stasiun-stasiun radarnya. Ketika memandang lembah di bawahnya, Taabes
menyimpan perasaan sedihnya, karena ia menyaksikan tanah airnya begitu dekat.
Di saat kritis ketika Taabes rindu
bertemu keluarganya, terjadi kup tak berdarah. Jenderal Amin Al-Hafez, atase
militer di Buenos Aires, teman Taabes itu, merebut kekuasaan. Pada 26 Juli
1963, Hafez jadi Presiden Suriah.
Taabes diundang ke istananya saat
pesta perjamuan naiknya Amin Al Hafez sebagai pemimpin tertinggi Suriah. Secara
khusus Hafez mengucapkan terima kasih atas hadiah-hadiah istimewa dari Taabes
untuk istrinya.
Kedekatannya dengan sang Presiden
itu membuat Taabes jadi buah bibir. Ia bahkan masuk daftar orang yang akan
dikerek naik menduduki jabatan strategis pemerintahan. Sebagai anggota Partai
Baath Suriah, Taabes punya kans.
Presiden bahkan menyodorkan
pilihan ekstrem, mengapa tak mendudukkannya sebagai Menteri Pertahanan. Tapi
Taabes menolak halus, mengatakan belum siap, dan hanya mengajukan diri untuk
pergi ke Argentina, dan menggalang dana.
Meski tidak menduduki jabatan,
Taabes menjadi orang kepercayaan Presiden. Ia bebas mendatangi instalasi
militer paling sensitif, jadi juru bicara Presiden di forum-forum luar negeri,
dan menyiapkan diri untuk menguasai jabatan paling strategis di militer Suriah.
Taabes bebas melihat instalasi
rudal terbaru buatan Rusia, menyaksikan gudang-gudang penyimpanannya, dan mendapatkan
gambaran detail sistem pertahanan di Quneitra, ujung tombak Suriah berhadapan
dengan Israel.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar