Kehebatan para agen Mossad sudah tak bisa diragukan lagi. berbagai kesuksesan berhasil mereka raih dalam dinas kerahasiaan mereka. Beberapa nama besar muncul dalam membicarakan tentang Mossad. Nama yang pasti tidak asing lagi bagi kita adalah Eli Cohen. Ya....Eli Cohen...salah satu agen Mossad terbaik yang pernah ada.
Eli Cohen bernama samaran Kamil Amin Taabes. Kamil Amin Taabes nyaris jadi orang nomer dua di Suriah, sebelum aksinya dibongkar Kolonel Ahmed Souwedani. Taabes adalah Eli Cohen, spion legendaris sepanjang sejarah Mossad. Kisah ini terangkum dalam buku karya Denis Eissenberg berjudul "Mossad; Dinas Rahasia Israel".
ELI COHEN – SPION LEGENDARIS MOSSAD (BAGIAN IV)
Pengakuan Eli Cohen
Keberhasilan Taabes memasok
laporan sensitif militer Suriah ke Mossad disusul keberhasilan lain saat Amin
Taabes mengirimkan detail proyek pembelokan air sungai Yordan yang jadi sumber
utama Danau Galilea.
Data-data itu peroleh dari
sahabatnya Kolonel Saleh Hatoum yang memimpin proyek. Data lain didapat dari
insinyur Spanyol yang jadi ahli di lapangan. Proyek ambisius itu akan mencegah
masuknya air dari Golan ke Danau Galilea, sumber utama air bagi warga Israel.
Sukses besar itu mendapat imbalan
liburan panjang Taabes. Ia kembali ke Israel, dan jadi Eli Cohen lagi.
Keluarganya bertambah besar, dan kali Eli mulai merasa berat berpisah dengan
keluarganya.
Setelah libur panjang, Eli Cohen
balik ke Damaskus, kembali menjalani perannya sebagai Amin Taabes, teman dekat
Presiden Suriah. Suatu hari di bulan Januari 1965, Taabes berbaring dekat
pemancar radio di apartemennya, menanti jawaban dari Tel Aviv.
Malam sebelumnya, ia makan bersama
Saleh Hatoum, dan mendapat potongan informasi Presiden Amin Al Hafez telah
memutuskan menyatukan aktivis dari berbagai kelompok pengungsi Palestina, dalam
satu grup yang akan dilatih secara militer.
Mereka itulah yang akan dikirim ke
luar Suriah untuk berperang melawan Israel. Keputusan itu telah dikirim ke
markas Mossad, dan Taabes hanya tinggal menunggu balasannya. Tiba-tiba pintu
rumahnya diketuk sesorang.
Sebelum Taabes bereaksi, daun
pintu itu jebol, ambruk saat seregu pria bersenjata merangsek masuk. Dua
moncong pistol teracung ke kepalanya saat ia menutup radio pemancar. Berseragam
militer, Kolonel Ahmed Souweidani muncul.
Dialah pemimpin kontraspionase di
Dinas Rahasia Suriah. Taabes terdiam. Permainan panjang itu dengan demikian
telah berakhir. Souweidani dengan congkak mengatakan, ia telah tahu permainan
mata-mata Taabes sejak lama.
Souwedani membayangkan penangkapan
Taabes akan jadi kartu trufnya untuk kup. Kursi Presiden seolah ada di depan
matanya. Souwedani tahu Taabes dekat dengan Presiden dan pembantu-pembantu
pentingnya.
Namun penangkapan Taabes
sesungguhnya bermula dari persoalan sepele. Kedutaan India yang dekat dengan
apartemen Taabes mengeluhkan sinyal radionya kerap terganggu. Pengiriman berita
ke New Delhi pun jadi tak lancar.
Penyelidikan seksama dilakukan
intelijen Suriah. Ketika jaringan listrik dimatikan, termasuk di apartemen
Taabes, terlacak masih ada sinyal radio beroperasi. Akhirnya atap gedung
apartemen diselidiki, dan ditemukan sebuah antene radio.
Temuan itu menuntun aparat
intelijen ke apartemen Taabes, yang tidak menyadari sedang ada pelacakan sinyal
radio di sekitarnya. Ketika listrik mati, Taabes menggunakan baterai cadangan.
Keteledoran itu tak disadarinya hingga ia digerebek.
Tertangkapnya Taabes membuat syok
Presiden Al Hafez. Ia bertindak cepat mengirimkan Kolonel Salah Dalli dan
Kolonel Hatoum, guna membantu penanganan masalah supaya tidak melebar ke
mana-mana.
Kehadiran Dalli dan Hatoum tak
pelak membuat masygul Souwedani. Ia tak bisa lagi leluasa menggunakan Taabes
sebagai senjata politik dalam permainan berbahayanya. Kabar penangkapan Taabes
sudah menjalar di Tel Aviv.
Taabes kemudian dipindahkan ke
sebuah markas militer di luar Damaskus. Apartemennya dibedah habis guna
menemukan semua peranti mata-mata yang tersisa. Presiden Al Hafez secara
pribadi segera menemui Taabes di lokasi penahanannya.
Di ruang pertemuan, ketika dua
sosok itu bertemu muka, mereka hanya saling pandang. Hening. Taabes lah yang
mula-mula membuka percakapan. "Saya Eli Cohen. Dari Tel Aviv. Seorang
prajurit Angkatan Bersenjata Israel'.
Kepada media massa, Presiden Al
Hafez berusaha mengalihkan kesalahan, baik yang dibuatnya sendiri maupun
teman-teman dekatnya. Mula-mula ia percaya Taabes seorang Suriah dari
Argentina.
Presiden Amin Al Hafez
memerintahkan penyelidikan cepat dan pengadilan militer, yang akan melibatkan
dua perwira militer kepercayaannya, Salah Dalli dan Saleh Hatoum, sebagai
hakimnya.
Dua orang yang sesungguhnya
mengetahui lekuk liku kamar-kamar pribadi di apartemen Taabes. Orang-orang yang memahami dan
menikmati setiap desah dan dengus napas perempuan- perempuan yang didatangkan
ke apartemen itu.
Israel bergerak cepat dengan
segala cara guna membantu penyelamatan mata-matanya. Semua sumber daya,
termasuk tokoh-tokoh penting dunia, digerakkan untuk menyelamatkan Eli Cohen.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar